728x90 AdSpace

  • HEADLINES

    1.07.2016

    Produksi Material: Basis Kehidupan Sosial

    Materi utama materialisme historis
    Produksi kain untuk kehidupan, Photo: kompas
    Oleh: Doug Lorimer [1] 

    (Bagian I)


    Materi utama materialisme historis: masyarakat manusia dan hukum-hukum perkembangannya yang paling jeneral. Langkah awal untuk menemukan hukum-hukum tersebut: meletakkan peranan produksi material dalam kehidupan masyarakat. Bisa dimengerti karena, tanpa produksi barang-barang material yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia, masyarakat tak dapat hidup. Proposisi tersebut telah lama diungkapkan dan diakui bahkan jauh sebelum masa marx dan Engels. Tapi, Marx dan Engels tak berhenti sampai di situ saja; mereka berhasil menemukan hukum (yang mengatur): bahwa hubungan-hubungan manusia—saat terlibat dalam produksi barang-barang material—merupakan landasan bagi seluruh hubungan-hubungan sosial yang ada.


    Dalam proses produksi, manusia tak saja sekadar menciptakan produk-produk material, produksi tak sekadar memberikan sumber-sumber kehidupan bagi manusia. Dalam proses produksi barang-barang material, manusia memproduksi dan mereproduksi hubungan-hubungan sosial mereka. Studi tentang produksi sosial, strukturnya, elemen-elemen pembentuknya, dan saling hubungan diantaranya, oleh karenanya, memungkinkan untuk memahami esensi proses historis, sehingga bisa mengungkapkan mekanisme sosial yang berjalan dalam kehidupan masyarakat.


    1.  Interaksi Masyarakat dengan Alam
    Produksi material merupakan kunci pelengkap untuk menjelaskan baik itu struktur internal masyarakat maupun saling-hubungannya dengan lingkungan luar alam sekitarnya. Produksi pada dasarnya merupakan proses interaksi antara masyarakat dengan alam. Dalam proses interaksi tersebut, manusia mendapatkan, dari alam sekitarnya, sumber-sumber kehidupan yang dibutuhkan.


    Dalam karyanya, The part played by labour in the Transition from Ape to man, Engels berhasil membuktikan bahwa kerja merupakan motor penggerak, landasan, bagi evolusi manusia.


    Pertama-tama, leluhur (pra-manusia) kita, dengan tangannya, menggunakan beberapa obyek sederhana untuk melindungi dirinya dari binatang buas, untuk menangkap binatang itu sendiri dan untuk, secara regular, memperoleh buah-buahan, kacang-kacangan serta makanan sayuran lainnya. Aktivitas tersebut termasuk dalam kategori “bentuk-bentuk kerja instingtif pertama yang masih dalam tingkatan binatang.” [2] Tapi, bentuk-bentuk aktivitas primitif nenek moyang manusia tersebut merupakan tonggak bagi perkembangan kerja manusia itu sendiri—menjadi bentuk kepemilikan manusia yang unik.


    Bermula dari penggunaan obyek-obyek kerja sederhana (yang diberikan oleh alam), yang kadang-kadang masih dilakukan oleh kera-kera modern (ape), nenek moyang kita secara bertahap mulai membuat perkakas kerjanya sendiri—faktor penting yang menimbulkan kerja manusia. Aktivitas kerja telah menghasilkan dua hal. Pertama, kehidupan leluhur manusia bisa berjalan bukan sekadar dengan menyesuaikan dirinya pada kondisi-kondisi lingkungan sekelilingnya tapi juga dengan aktivitas kerjanya. Gambaran khusus bentuk fisik manusia—berjalan tegak, pembedaan fungsi-fungsi bagian muka dan bagian belakangnya, perkembangan tangan dan otaknya—berkembang seiring dengan proses adaptasinya pada kehidupan yang lama, yang membentuk operasi-operasi kerjanya. Kedua, karena aktivitas kerja merupakan gerak menyeluruh, maka aktivitas kerja mendorong kemunculan dan perkembangan kemampuan bicara—atau bahasa, alat komunikasi—yang merupakan akumulasi, transmisi, dari aktivitas kerja dan pengalaman sosial.


    Ada dua tahap penting dalam proses pembentukan manusia. Pertama, ditandai oleh dimulainya penggunaan perkakas  kerja secara regular dan, kemudian, mulai membuat perkakas kerja tersebut. Itu lah tahap dalam proses pembentukan manusia (Australopithecus africanus, Homo habilis dan Homo erectus). Bukti paling tua penggunaan perkakas kerja (pada 2,5 juta tahun yang lalu) yang terbuat dari batu ditemukan di Hadar, Ethiophia. Sisa-sisa leluhur manusia yang tertua, Australopithecine dan Homo habilis, hidup pada periode ini. Hal tersebut diperkuat dengan bukti adanya hubungan intrinsik antara perkembangan kerja dengan evolusi manusia.


    Tahap kualitatif kedua (yang palingutama) adalah kemunculan manusia modern (Homo Sapiens—'manusia rasional’) di Afrika sekitar 100.000 tahun yang lalu, dalam abad pertengahan Paleolithic. Sejak kemunculan Homo Sapien,tak ada lagi perubahan mendasar yang terjadi dalam bentuk fisik manusia. Dalam periode tersebut terjadi perubahan-perubahan utama dalam produksi, termasuk pembuatan berbagai macam perkakas kerja (yang terbuat dari kayu, batu, tulang dan tanduk).


    Tahap-tahap evolusi manusia dan perkakas kerjanya terjadi sejalan dengan tahap-tahap proses pembentukan masyarakat manusia itu sendiri dalam bentuk primitifnya—masyarakat suku (tribal society). Manusia, sebagai mahluk sosial, tak pernah hidup dan tak bisa hadir tanpa masyarakatnya atau sebelum masyarakatnya terbentuk. Masyarakat tak bisa terbentuk sebelum manusia hadir, dan bentuk-bentuk hubungan baru di antara individu hanya bisa berkembang saat leluhur manusia telah menjadi komunitas.


    Segala macam gambaran di atas membedakan manusia dari binatang-binatang lainnya. Hal pertama, yang paling penting, dari perbedaan tersebut: manusia memproduksi perkakas kerja [3]; kedua, manusia berbicara dengan baik dan berpikir. Perbedaan pertama lah yang paling utama. Menurut Marx dan Engels, manusia “…mulai membedakan dirinya dari binatang seketika mereka mulai memproduksi perkakas subsisten mereka.” [4] Paleontologis modern melakukan cara yang sama, mengklasifikasikan kerangka-kerangka fosil primata, termasuk manusia, untuk membedakannya dari garis evolusi monyet (simian) lainnya, dan mereka menemukan bukti-bukti adanya aktivitas kerja—penggunaan dan pembuatan perkakas untuk maksud tertentu. Setetap apapun gambaran fisik bentuk-bentuk transisional awal manusia-kera tersebut, mereka sudah mampu mencapai taraf yang lebih tinggi: tidak sekadar menggunakan organ-organ biologisnya saja untuk mencari makan, tapi juga sudah menggunakan perkakas kerja sehingga membedakannya dari keluarga monyet (simian) lainnya.


    Dalam pengertian bentuk-bentuknya yang paling umum, proses produksi adalah apa yang manusia lakukan pada obyek-obyek dan tenaga-tenaga alam untuk mendapatkan dan memproduksi sumber-sumber kehidupan mereka: makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Proses tersebut mensyaratkan aktivitas manusia—kerja—untuk merubah obyek-obyek kerja. Tidak seperti bentuk-bentuk spontan aktivitas menusia, kerja manusia, dalam makna yang sebenarnya, merupakan aktivitas yang memiliki maksud tertentu: hasil-hasil ciptaannya terhadap obyek tertentu, seperti Marx uraikan, telah ada dalam imajinasi seseorang, yakni dalam bentuk ide. Bandingkan dengan kebiasaaan lebah yang, bagai aktivitas seorang arsitek, sangat akhli membangun sarang madunya dari lilin. Menurut  Marx: arsitek (manusia) yang paling jelek pun adalah lebih superior dibandingkan dengan lebah yang paling ahli tersebut. Sebelum ia (arsitek) membangun sebuah rumah, manusia telah merencanakan ciptaannya dalam pikirannya.


    Aktivitas kerja dibantu oleh dari peralatan yang tepat dengan obyek kerjanya—perkakas kerja. [5]  Itu lah peralatan utama dalam aktivitas kerja manusia.


    Peralatan kerja merubah obyek dengan segera, langsung, layaknya yang dilakukan binatang, namun dengan karateristik berbeda—binatang menggunakan organ-organ dasar mereka (kuku-kuku, gigi dan lain sebagainya), sedangkan ketika menjadi menjadi aktivitas manusia, manusia dibantu oleh Peralatan (perkakas kerja). Akhirnya, organ-organ alami manusia mengalami pembentukan: pada awalnya fungsi-fungsinya memang sama seperti organ-organ awal tapi, kemudian, perannya menjadi lebih meningkat.


    Masyarakat mungkin bisa digambarkan sebagai sebuah tipe organisme khusus. [6] Organisme biologis memiliki sebuah sistem organ-organ dasar yang membentuk fungsi-fungsi tertentu yang dibutuhkan untuk kehidupannya, sedangkan perkembangan masyarakat manusia mensyaratkan perbaikan alat-alat bantunya—peralatan, perkakas kerja manusia.


    Dengan alasan-alasan tersebut, kreteria perkembangan manusia dilihat terutama dari perubahan organ-organ sosialnya—perkakas kerja—yang perkembangannya tak terbatas. Dalam proses kerjanya, tak seperti binatang, manusia secara aktif mempengaruhi lingkungan sekitarnya, merubahnya dan menyesuaikannya pada kebutuhan mereka.


    Kesimpulannya: Aktivitas kerja manusia berbeda dengan aktivitas kerja binatang yang paling berkembang sekalipun. Pertama, aktivitas kerja manusia menghasilkan suatu pengaruh  aktif terhadap alam, sedangkan binatang hanya menyesuaikan diri pada alam;kedua,aktivitas kerja manusia mensyaratkan penggunaan secara sistematik (pada dasarnya penciptaan) perkakas produksi; ketiga, aktivitas kerja manusia memiliki maksud tertentu, merupakan suatu aktivitas yang sadar; keempat, aktivitas kerja manusia sejak awalnya bersifat sosial dan tak bisa dipahami tanpa masyarakatnya.


    Dengan alasan-alasan tersebut, perkembangan sosial berbeda dengan perkembangan biologis. Perkembangan manusia, sebagai mahluk sosial, tak merubah (secara radikal) dasar biologisnya. Di situ lah terletak baik perbedaan karakter maupun perbedaan landasan proses-proses perkembangan biologis dan sosialnya. Perubahan-perubahan radikal dalam kehidupan sosial terjadi dalam periode-periode yang lebih singkat, waktu yang tak akan mencukupi untuk memberikan perubahan-perubahan penting dalam perkembangan spesies biologis (tentu saja tak terhitung jumlah perubahan yang terjadi di alam sebagai reaksi atas aktivitas manusia). Jadi, manusia bisa saja mengembangkan kemampuannya (misalnya untuk bisa membuat pesawat terbang) dalam lima puluh tahun evolusi teknologi, tapi evolusi biologis baru bisa dicapai dalam waktu lima puluh juta tahun (untuk menghasilkan genetika yang berbeda).


    Perubahan yang singkat dalam perkembangan sosial, bila dibandingkan dengan rata-rata perubahan dalam bentuk bologis kita, menjadi semakin singkat lagi dengan ditemukannya mekanisme baru dalam perkembangan sosial lebih lanjut, tidak demikian halnya dengan mekanisme evolusi biologis, lebih lama. Dalam dunia organik, pengumpulan dan transmisi informasi dari satu generasi ke generasi lainnya terutama dilakukan melalui mekanisme warisan turun-temurun, dan bentuk-bentuk dasarnya dihasilkan secara spontan sejak lahir. Binatang yang lebih pandai juga meneruskan keahlian-keahlian tertentunya kepada anak-anak (keturunan) mereka. Dalam kehidupan sosial, generasi sebelumnya mewariskan perkakas produksi ciptaannya kepada generasi penerusnya dan, selain itu, juga diteruskan melalui pengalaman sosial dalam wujud bahasa, kebudayaan dan tradisi-tradisi. Sebaliknya, transmisi karakteristik biologis dibatasi oleh pengetahuan yang bisa disimpan dalam ingatan (dalam jen). Sedangkan transmisi pengalaman sosial dilakukan secara terus menerus dan tak punya batasan. Dalam pengertian secara umum, kebudayaan merupakan perwujudan dari pengalaman tersebut—seluruh pengalaman (warisan) nilai-nilai material dan intelektual yang diciptakan dalam kurun waktu tertentu (sejarah manusia).


    Setiap generasi memperkaya kebudayaannya (dan kebudayaan generasi penerusnya) dengan penemuan-penemuan baru. Bertentangan dengan dunia biologis, seluruh perubahan terjadi secara spontan, tak sadar. Masyarakat manusia selalu menghasilkan perubahan kondisi-kondisi secara sadar dan direncanakan baik dalam kehidupan materialnya maupun dalam mengatur interaksinya dengan alam.


    Elemen-elemen pembentuk sistim harus (mensyaratkan) dikait-kaitkan dalam suatu jenis hubungan tertentu. Secara khsusus, basis kehidupan sosial ditentukan oleh hubungan produksi atau hubungan ekonomi. Seluruh bentuk hubungan sosial yang dibuat, pada kesimpulan akhirnya, tergantung pada hubugan-hubungan proses produksi di antara sesama manusia—yakni hubungan-hubungan produksi yang mengikat kehidupan sosial dan menyatukannya.


    Bentuk-bentuk hubungan kualitatif yang baru tersebut menyusun, membentuk, kehidupan sosial sesuai dengan hukum-hukum perkembangan khusus, yang berbeda dengan hukum-hukum biologis. Marx dan Engels berhasil membuktikan kesalahan orang-orang yang berusaha menerapkan hukum-hukum biologis pada tentang fenomena sosial. Sebagaimana hukum-hukum alam lainnya, hukum-hukum biologis tidak mengatur atau tidak menentukan perkembangan fenomena sosial. Masyarakat ditentukan (dibentuk) oleh hukum-hukumnya sendiri—yang bisa dijelaskan oleh materialisme historis atau ilmu-ilmu sosial lainnya.


    Namun demikian, tidak berarti masyarakat berkembang dengan mengisolir diri dari alam. Bahkan, perkembangan masyarakat tak bisa dipahami tanpa prakondisi alam tertentu. Penentu antara masyarakat dengan kondisi alam di sekitarnya biasanya (disebut)lingkungan geografis dan organisasi fisik manusia itu sendiri.


    Konsep lingkungan geografis tentu saja bukan lah alam secara keseluruhan, yang tak terbatas, melainkan bagian tertentu alam yang mempengaruhi masyarakat secara langsung atau pun tak langsung, yang membentuk kondisi-kondisi alam kehidupan dan aktivitas manusia. Beberapa penulis mendifinisikan lingkungan geografis sebagai lingkungan alam yang bisa dirubah atau dibentuk oleh masyarakat. Seperti akan kita lihat kemudian, bagian alam yang mengelilingi manusia secara aktual mendukung (kesan) aktivitas kita. Tapi kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan alam yang berada d iluar kontrol manusia (misalnya, radiasi matahari, energi yang terkandung dalam bumi, yang dinyatakan dalam gerakan kulit bumi, dan lain sebagainya).


    Berbagai macam teori tentang alam berusaha menggambarkan sejarah prakondisi alam tersebut memiliki peran yang menentukan. Pengikut-pengikut determinisme geografis (seperti filsuf Perancis Charles Montequieu, sejarawan Inggris Henry Thomas Buckle, geografis Perancis Elisee Reclus, dan lain-lainnya) mencoba menghubungan perbedaan-perbedaan sistem sosial (dan sejarah berbagai macam masyarakat) dengan pengaruh dari kondisi-kondisi alam yang mereka huni. Bagaimanapun, dalam realita, ternyata kita bisa menemukan sistem-sistem sosial yang berbeda dengan kondisi-kondisi geografis yang sama, dan menemukan bentuk sistem sosial sejenis, sama, pada kondisi-kondisi geografis yang berbeda (misalnya, sistem perbudakan ditemukan di Eropa, Asia, Afrika, Amerika dan Australia pada waktu yang berbeda-beda). Tak ada sejarah pergantian formasi-formasi sosio-ekonomi yang bisa dikaitkan dengan pengaruh dari lingkungan geografis, apalagi ada pergantian formasi sosio-ekonomi yang jauh lebih cepat ketimbang perubahan-perubahan lingkungannya (yang tak mengantungkan diri pada pengaruhnya terhadap masyarakat).


    Kesalahan mendasar metodelogi teori-teori tentang alam dalam sosiologi: melihat sumber, akar, perkembangan sosial sebagai sesuatu yang berada di luar masyarakatnya. Pengaruh kondisi eksternal terhadap suatu perkembangan sistem, termasuk masyarakat, tentu saja tak bisa ditolak atau diabaikan. Tapi perubahan suatu sistem tidak lah sesederhana sebagai bentukan dari perubahan lingkungan, sebagai hasil pasif terhadap pengaruhnya. Sebuah sistem memiliki logika perkembangan internalnya sendiri, dan perkembangan tersebut memiliki pengaruh terhadap lingkungannya.


    Jika kita mengambil klasifikasi sistem-sistem modern, masyakarat bisa dipandang sebagai sesuatu yang memiliki sistem-sistem terbuka, yang timbal balik-baliknya tak hanya terhadap pada enerji melainkan juga terhadap benda-benda lingkungannya. Antara masyarakat dan alam terjadi suatu metabolisme regular, suatu timbal-balik elemen-elemennya secara regular, seperti dijelaskan oleh Marx—tibal-balik tersebut terjadi dalam proses kerja suatu produksi. Dari dunia tumbuh-tumbuhan dan binatang, manusia memperoleh kebutuhan-kebutuhan nutrisi dan bahan-bahan mentah guna membuat benda-benda bermanfaat. Sumber-sumber mineral melengkapi manusia dengan perkakas dan bahan-bahan untuk menghasilkan perkakas produksi lagi. Kegiatan produksi membutuhkan penggunaan berbagai macam sumber enerji.


    Pada awalnya menggunakan kekuatan otot manusia itu sendiri, kemudian menggunakan kekuatan binatang yang mereka jinakkan, kemudian lagi menggunakan kekuatan angin dan air dan, akhirnya, menggunakan tenaga uap, tenaga elektrik, proses-proses enerji kimia serta energi nuklir.


    Dalam berbagai tahap perkembangan masyarakat, lingkungan geografis mempengaruhinya dengan berbagai cara. Tapi pengaruh langsung kondisi-kondisi geografis terhadap alam manusia dan organisasi sosial mereka tak pernah menjadi yang paling penting (seperti yang dipertahankan oleh Montesquieu dan kaum determinis geografis lainnya). Yang utama adalah pengaruh tak langsung dari alam—melalui kondisi-kondisi produksi. Pada taraf kebudayaan yang rendah, ketika persoalan utama manusia adalah memdapatkan makanan yang tersedia, yang lebih penting adalah mengambil atau memanfaatkan sumber-sumber kehidupan alami: tanah yang subur, ikan yang banyak, dan lain sebagainya. Pada taraf-taraf kebudayaan yang lebih tinggi, ketika industri mekanis sudah berkembang, keberadaan perkakas produksi alami seperti air terjun, sungai yang dapat dilalui, hutan, logam, batu bara, dan minyak, jauh lebih penting.


    Perkembangan aktivitas ekonomi tentu saja tak selalu sama di berbagai suku-bangsa berbeda. Perkembangan tersebut lebih besar tergantung pada kondisi-kondisi geografis yang mereka huni. Di kalangan suku-bangsa yang menetap di area-area subtropis utara yang subur—seperti di lembah-lembah sungai Tigris dan Efrata (Euphrates) (Mesopotamia), lembah sungai Nil dan sebagainya—tenaga-tenaga produktif berkembang lebih cepat ketimbang di suku-bangsa yang menetap dengan kondisi-kondisi alam seperti di belahan  Utara-Jauh dan Selatan-Jauh.


    Pada saat yang sama, tingkat perkembangan produksi yang tak merata  juga bisa dikaitkan dengan perbedaan kondisi-kondisi sosial, yakni perbedaan hubungan-hubungan yang terbentuk di antara orang-orang yang berbeda—saling-hubungan atau isolasi di antara mereka, hubungan saling-menguntungkan atau berkontradiksi di antara mereka, dan lain sebagainya.


    Pengaruh kondisi-kondisi geografis selalu dimediasi, diatasi, oleh kondisi-kondisi sosial, terutama oleh tingkat perkembangan produksi. Manusia memanfaatkan berbagai kehidupan lingkungannya: semakin lama material-material baru semakin digunakan dalam proses produksi, manusia semakin menembus wilayah-wilayah alam baru (seperti dasar bumi, lautan, luar angkasa, dan lain sebagainya), menguasainya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Itu berarti: hubungan masyarakat dengan alam menjadi semakin luas dan semakin kompleks.


    Melalui perkembangan produksi, ketergantungan masyarakat pada kondisi-kondisi alam secara relatif semakin dikurangi. Produksi barang-barang sintetik mengurangi ketergantungan industri pada bahan-bahan mentah alam; Aliran listrik, yang menjangkau jarak yang jauh dan luas, mengurangi ketergantungan untuk menempatkan pabrik-pabrik berdekatan dengan sumber-sumber tenaga alam.


    Dalam beberapa lingkungan geografis, berkurangnya ketergantungan pada kondisi-kondisi alam dikarenakan peningkatan pengaruh manusia atas alam. Sebaliknya, kondisi-kondisi alam sebenarnya berubah secara lambat jika alam dibiarkan berubah dengan sendirinya, manusia lah yang mempercepat tingkat perubahan alam. Lingkungan alam manusia memberikan kesan terhadap aktivitas produksi manusia.


    Kondisi-kondisi geografis di bumi adalah sebuah wilayah penting hasil dari aktivitas organisme kehidupan, yang bertanggung jawab, misalnya, dalam pembentukan kapur, dolomite [7], marmer, batu bara, bahan bakar tanah, tanah yang subur, oksigen atmosfir, dan lain sebagainya. Peran aktif kehidupan bumi bisa dilihat pada konsep biosfir (biosphere) [8] kulit luar planet, tempat organisme dan juga benda-benda mati dirubah serta dibentuk menjadi senyawa hidup. Jika tidak ada kehidupan di bumi, bumi akan terlihat tandus seperti bulan. Dengan kehadiran manusia, ‘tuntutan hidup’ kulit luar bumi menjadi semakin kuat tak terhingga.


    Manusia mempengaruhi dunia tumbuhan dan binatang, memusnahkan jenis-jenis (spesies) tumbuhan dan binatang, serta mempengaruhi perubahan lainnya. Suatu area penting dunia tumbuhan telah dibentuk oleh manusia. Di negeri Yunani kuno, awalnya, hanya terdapat beberapa jenis apel; sekarang, terdapat lebih dari sepuluh ribu jenis apel. Area perkebunan berbagai macam tumbuhan telah dikembangkan oleh (pengaruh) manusia. Kentang, pertama kali tumbuh di dataran tinggi di tengah gunung Andes, Amerika Selatan; jagung, pertama kali tumbuh di Amerika, berasal dari Afrika, dan tanaman-tanaman berguna lainnya telah menyebar ke negara-negara lain melalui aktivitas manusia.


    Besarnya pengaruh manusia pada lapisan luar planet kita sebanding dengan kekuatan-kekuatan geologis (yang sangat kuat sekalipun). Menurut suatu perkiraan, manusia telah menggali (dari bumi, dalam lima abad terakhir) tak kurang dari 50.000 juta ton karbon, 2.000 juta ton besi, 20.000 juta ton tembaga, 20.000 ton emas, dan lain sebagainya. Aktivitas produksi manusia telah mengeruk tidak kurang dari lima kilometer kubik batu per tahun. Manusia membangun kanal-kanal di antara benua-benua dan menimbun tanah di lautan. Manusia merubah iklim yang buruk bagi kehidupan mereka seperti dengan cara mengairi gurun-gurun pasir, mengeringkan tanah rawa, dan mengalihkan aliran sungai. Keadaan iklim juga dipengaruhi, secara tidak langsung, oleh aktivitas produksi manusia—pembakaran minyak, batu bara dan bahan bakar tanah, telah mengotori udara dengan karbon sekitar 1500 juta ton per tahunnya. Jumlah kabron di udara adalah salah satu faktor yang mempengaruhi temperatur bumi.


    Pengaruh alam atas manusia semuanya terjadi secara spontan, tapi pengaruh masyarakat pada alam selalu sebagai hasil dari aktivitas manusia demi kehidupannya, yang dilakukannya secara sadar. Di samping memang bertujuan merubah alam, aktivitas manusia juga memperoleh hasil-hasil yang tak terbayangkan sehingga, dalam banyak kasus, kemudian menyebabkan manusia kehilangan banyak hal. Karl Marx, mewanti-wanti bahwa pengerukan tanah secara tak sadar atau membabi-buta akan menyebabkan tanah di sekelilingnya tandus. [9] Penebangan kayu yang merusak, misalnya merusak aliran arus sungai-sungai, memperlebar erosi dan menyebabkan kekeringan (tandus). Area-area tanah luas yang mengalami erosi menyebabkan tak bisa lagi digunakan untuk bercocok tanam. Penggunaan pestisida kimia (obat pembunuh hama), pemusnahan rerumputan, sering kali tak hanya mebunuh serangga-serangga dan rumput-rumput liar tapi juga meracuni banyak tanaman dan binatang lainnya. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas manusia, bahaya tak terkontrolnya pengaruh manusia atas lingkungan alam juga semakin besar. Salah satu sisi pengaruh aktivitas manusia, misalnya, adalah gangguan terhadap keseimbangan dalam berbagai macam proses alam, polusi udara dan air oleh limpahan limbah industri serta benda-benda radioaktif, dan lain sebagainya. Itu lah awal ancaman bagi kehidupan manusia itu sendiri.


    Walaupun demikian, bukan lah hakekat manusia yang harus disalahkan atas ancaman atau bahaya tersebut, melainkan subordinasi aktivitas manusia kepada tujuan untuk mengeruk keuntungan pribadi, atau subordinasi terhadap pikiran yang cupet. Munculnya masalah tersebut menuntut penggunaan sumber-sumber alam yang terencana di seluruh negeri dan benua. Hal tersebut tak mungkin terjadi dalam masyarakat kapitalis; untuk mencapainya, perkakas produksi yang vital harus dimiliki secara sosial. Tentu saja, hal tersebut juga menuntut cara dan perencanaan produksi yang efektif serta pengaturan barang-barang hasil produksinya, yang tak didistribusikan secara semena-mena walaupun dalam kondisi perkakas produksi yang vital dimiliki secara sosial. Hal tersebut mensyaratkan kontrol demokratik dan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan melalui pengetahun ilmiah terbaik yang dapat diterapkan.


    Kesimpulannya: pengaruh manusia atas alam tergantung pada tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif, tergantung pada karakter sistem sosial, dan tergantung pada tingkat perkembangan masyarakat dan manusia itu sendiri.


    Secara prinsipil, demikian pula halnya dengan kebenaran tentang pra kondisi alam lainnya dalam sejarah manusia—bentuk fisik manusia, karakteristik biologis mereka. [10] Karakteristik biologis tersebut lah yang membuat mereka membutuhkan makanan, pakaian dan sebagainya. Tapi perkakas pemuas kebutuhan tersebut tidak ditentukan oleh faktor biologis melainkan oleh kondisi-kondisi sosial. Reproduksi terjadi sesuai dengan karakteristik biologis manusia. Pertumbuhan populasi merupakan suatu fenomena sosial utama, yang diatur oleh hukum-hukum perkembangan masyarakat.


    *****


    Catatan Kaki

    [1]Lorimer, Doug, Fundamentals of Historical Materialism, the Marxist View of History and Politics, Resistance Books, Sydney, 1999, Bab 4, Material Production: The Basis of Social Life, hal. 73-107.

    [2] Marx, Kapital, Capital, Vol. I, Penguin Books, hal. 283.

    [3] Menurut definisi Benjamin Franklin, yang dikutip Marx dalam Capital, manusia adalah “binatang pembuat perkakas.” ibid, hal. 286.).

    [4] Marx, K. dan Engels, F., Selected Works (MESW) (dalam 3 jilid),  Progress Publisher, Moscow, 1969-1970, hal. 20.

    [5] Lihat Marx, Karl, Capital, Vol. 1, Penguin Books, hal. 285.

    [6] Lihat ibid., hal. 103, di situ—sesuai dengan tujuannya menulis Capital—Marx menegaskan (secara gamblang): terdapat “hukum-hukum khusus yang mengatur kelahiran, kehidupan, perkembangan dan kematian suatu organisme sosial yang ada, serta juga penggantiannya dengan yang lain, yang lebih tinggi.”

    [7] Mineral CaMg (COf), kandungan Kalsium Magnesium Karbon,yang terdapat dalam kristal dan pada tataran batu padat hasil akumulasi endapan organik seperti batok dan koral. Merriam Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition [Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA,1996], hal.  344 (—ed.).

    [8] Bagian dunia tempat kehidupan bisa eksis; kehidupan yang beradaptasi dengan lingkungannya. Merriam Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition [Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA,1996], hal.  115 (—ed.).

    [9] Lihat Marx, K., Engels F., Selected Correspondence (MESC), Progress Publisher, Moscow, 1969-1970, hal. 244.

    [10] Marx dan Engels mengatakan bahwa prasyarat pertama sejarah adalah “eksistensi kehidupan manusia secara individual. Kemudian, fakta pertama yang harus dibuktikan adalah bentuk fisik individu tersebut dan hubungan-hubungan tak langsungnya dengan alam.” (MESW, Vol. 1, hal. 20.).
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan PPRI. Kami berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan.
    Untuk saran, koreksi dan hak jawab, pengiriman press rilis, artikel, photo, silahkan mengirimkan email ke: infoppri2015@gmail.com

    Item Reviewed: Produksi Material: Basis Kehidupan Sosial Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top